RMOL. Badan Pekerja Revolusi Islam resmi dideklarasikan di Jalan Raya Menteng 58, Jakarta Pusat tadi malam (Kamis, 31/3).

Salah seorang deklarator BPRI, Syahrul Effendi Dasopang, mengungkapkan, pendeklarasian BPRI, merupakan respon atas kondisi bangsa Indonesia yang tidak mengalami perbaikan selama di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Masyarakat tetap tidak mendapatkan akses kesejahteraan; penegakan hukum amburadul, pemberantasan korupsi pun juga demikian.

Tapi, dia menekankan, BPRI berbeda dan tidak ada hubungan dengan Dewan Revolusi Islam yang beberapa waktu lalu sempat menjadi perdebatan publik, meski nama-nama yang dicantumkan dalam DRI membantah terlibat.

“BPRI terpisah dan tidak ada hubungan dengan DRI. BPRI adalah semangat dari anak-anak muda yang ingin ada perubahan secara drastis di negeri ini, tidak hanya ganti orang,” terang Syahrul kepada Rakyat Merdeka Online (Jumat. 1/4).

Pada saat deklarasi tadi malam, cetus mantan Ketua Umum PB HMI ini, salah satu acaranya diisi dengan nonton bareng film Revolusi Islam Iran. Film ini diangkat, terangnya, karena ada kemiripan kondisi Indonesia dengan Iran sebelum terjadi revolusi.

“Jadi memang ada kesamaan. Sama-sama ketergantungan yang sangat kuat dengan asing, Amerika, juga tentara dan polisi yang tidak independen, karena perlatannya disuplai dari luar juga. Begitu juga dengan politik dinasti, yang sudah mulai kelihatan ditunjukkan oleh pemimpin negeri ini,” terangnya.

Syahrul menegaskan, revolusi Islam tidak akan menggunakan senjata, dan berdarah-darah seperti dibayangkan banyak orang. Dia menjelaskan, revolusi Islam adalah revolusi damai yang bergerak melalui penyadaran kepada umat Islam, penduduk paling banyak di negeri ini.

Makanya gerakan BPRI ini jangka panjang seperti dan terinsiprasi dari apa yang dilakukan Ruhullah Ayatullah Khumaini dalam menumbangkan rezim Iran pada tahun 1979.  Ayatullah Khumaini, katanya, butuh waktu hampir 50 tahun, baru akhirnya melakukan revolusi.

“Kita akan memberikan penyadaran kepada umat muslim karena memang mereka selama ini diam saja seperti kambing congek. Padaha mereka adalah pemilik sah negeri ini. Bayangkan, 203 juta penduduk Indonesia adalah muslim, tapi kenapa diam saja, melihat fakta yang ada ini,” katanya dengan nada menggugat.

Syahrul membantah bahwa BPRI dideklarasikan sebagai gerakan reaksioner dan ikut-ikutan gerakan lain yang sudah dideklarasikan belakangan ini. Kata Syahrul, pembicaraan itu sudah dimulai pada tahun 2008 lalu di antara 16 organisasi kepemudaan Islam. Tapi, katanya, baru mengkristal tadi malam.

Pada saat deklarasi tadi malam, setidaknya hadir 9 OKP, antara lain, Pelajar Islam Indonesia, Gerakan Pemuda Islam, Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam, HMI MPO, dan Amanat Umat. [zul]