Pendahuluan

Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain karena perantaraan kalimatlah seseorang baru dapat menyampaikan maksudnya secara lengkap dan jelas. Satuan bentuk bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada tataran kalimat adalah kata (mis.tida) dan frasa atau kelompok kata (mis. Tidak tahu).  Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek dan predikat dan intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap dengan makna. Intonasi kalimat dalam bahasa tulis dilambangkan dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.

Unsur Kalimat

Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku – buku tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kita disebut peran kata yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (pel)  dan keterangan (ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang – kurangnya terdiri atas dua unsure, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir. Pengisi S, P, O, pel, ket dalam kalimat tidak hanya berupa kata tetapi dapat juga berupa frasa. Contoh kalimat S, P, O, pel, ket dalam bentuk frasa yaitu pembawa acara yang  kocak (itu).

(S) Pembawa acara yang kocak itu // pembeli //  bunga

S                                  P                 O

(P) Indra // (adalah) Pembawa acara yang kocak itu

S                                      P

(O) Madonna // menelepon // Pembawa acara yang kocak itu

S                   P                                            O

(Pel) pesulap itu // menjadi // Pembawa acara yang kocak itu

S                      P                                  Pel

(Ket) Si Fulan // pergi // dengan membawa acaraa yang kocak itu

S              P                                       Ket

Predikat

Predikat (P) adalah bagian kalimat yang member tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana S (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Predikat dapat berupa frasa, sebagian besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal. Contoh sebagai berikut  :

(1)   Kuda meringkik

Memberitahu perbuatan kuda

(2)   Ibu sedang tidur siang

Memberitahu tindakan ibu

(3)   Putrinya cantik jelita

Memberitahu keadaan putrinya

(4)   Kota Jakarta dalam keadaan aman

Memberitahu keadaan kota jakarta

(5)   Kucingku belang tiga

Memberitahu cirri kucingku

Subjek

Subjek (S) adalah bagian yang menunjukan pelaku, tokoh atau benda, sesuatu hal atau suatu masalah yang menjadi pangkal / pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata / frasa benda, klausa atau frasa verbal. Untuk lebih jelas lihat contoh dibawah ini :

(1)   Ayahku sedang melukis

(2)   Meja direktur besar

(3)   Yang berbaju batik dosen saya

Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S harus selalu merujuk pada benda (konkret atau abstrak).

Objek

Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu dibelakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O seperti contoh dibawah ini

a. Nurul menimang

b. Arsitek merancang

contoh diatas predikat menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P bagi kedua kalimat itulah yang dinamakan objek.

Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan contoh dibawah ini :

  1. Serena  mengalahkan Angeli (O)

b. Angeli (S) dikalahkan oleh serena

Pelengkap

Pelangkap adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak pelangkap di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis kata yang mengisi pel dan O juga sama yaitu berupa nomina, frasa nominal atau klausa. Namun antara Pel dan O terdapat perbedaan.

Perhatikan contoh dibawah ini :

  1. Ketua MPR // membacakan // pancasila.

S                    P                           O

Pancasila // dibacakan // oleh Ketua MPR. ( Kalimat pasif ).

S                     P                           O

Keterangan

Keterangan (Ket) adalah bagian kalimata yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian kalimat yang lain. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O dan Pel. Posisi bersifat manasuka, dapat diawal, ditengah, atau diakhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa preposional, adverbia, atau klausa. Para ahli membagi keterangan atas sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang tertera dalam contoh dibawah ini. Bagian yang dicetak tebal adalah Keterangan.

  1. Sekertaris itu mengambilkan atasannya air minum dari kulkas. (ket. Tempat)
  2. Rustam Lubis sekarang sedang belajar. (ket. Waktu)
  3. Lia memotong roti dengan pisau. (ket. Alat)
  4. Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuanya. (ket. Tujuan)
  5. Polisi itu menyelidiki maslah itu dengan hati-hati. (ket. Cara)
  6. Amir Burhan pergi dengan teman-teman sekantornya. (ket. Penyertaan)
  7. Mahasiswa hukum itu berdebat bagaikan pengacara. (ket. Similatif)
  8. Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus. (ket. Penyebaban)
  9. Murid-murid TK berpegangan satu sama lain. (ket. Kesalingan)

Pola Kalimat Dasar

Kalimat dasar bukanlah nama jenis kalimat, melainkan acuan atau patron untuk membuat berbagai tipe kalimat. Kalimat dasar terdiri atas beberapa struktur kalimat yang dibentuk dengan lima unsur kalimat, yaitu S, P, O, Pel, Ket. Sejalan dengan batasan bahwa struktur kalimat minimal S-P, sedangkan O,Pel,Ket merupakan tambahan yang berfungsi melengkapi dan memperjelas arti kalimat, maka pola kalimat dasar yang paling sederhana adalah yang bertipe S-P, dan yang paling kompleks adalah yang tipe S-P-O-Ket.

  • Kalimat Dasar Tipe S-P

Dalam kalimatt bertipe S-P, verba intransitif atau frasa verbal lazim sebagai pengisi P. Akan tetapi, adda pula pengisi P itu berupa nomina, adjektiva, frasa nominal, dan frasa adjektival.

  • Kalimat Dasar Tipe S-P-O

Predikat dalam kalimat bertipe S-P-O diisi oleh verba transitif yang memerlikan dua pendamping, yakni S (disebelah kiri) dan O (disebelah kanan). Jika kedua pendamping itu tidak hadir, kalimat itu tidak grramatikal.

  • Kalimat Dasar Tipe S-P-Pel

Seperti halnya kalimat bertipe S-P-O, kalimat tipe S-P-Pel mempunyai P yang memerlukan dua pendamping, yakni S (disebelah kiri) dan Pel (disebelah kanan).

  • Kalimat Dasar Tipe S-P-Ket

Predikat kalimat bertipe S-P-Ket menghendaki dua pendamping yang berupa S (disebelah kiri) dan Ket (disebelah kanan).

  • Kalimat Dasar Tipe S-P-O-Pel

Predikat kalimat tipe S-P-O-Pel menurut kehadiran tiga pendamping agar konstruksinya menjadi gramatikal. Pendamping yang dimaksud adalah S (disebelah kiri) O dan Pel (disebelah kanan).

Kalimat Dasar Tipe S-P-O-Ket

  • Ada tiga pendamping yang diperlukan oleh P dalam tipe S-P-O-Ket yakni S (di sebelah kiri),O dan Ket (di sebelah kanan).

Contoh:

Melanie memasukkan bungkusan itu ke dalam mobil.

S                      P                      O                  Ket

  • Dari tipe kalimat dasar satuan bentuk yang mengisi unsur S,P,O,Pel,Ket bukan hanya kata, melainkan juga frasa dan klausa.

Contoh:

Kalimat Kata Frasa klausa
Melanie memasukkan bungkusan itu ke dalam mobil. Melanie;memasukkan Bungkusan itu;Ke dalam mobil Memasukkan bungkusan itu ke dalam mobil

Jenis Kalimat

Kalimat dapat dibedakan menjadi beberapa jenis:

  1. Jumlah klausa pembentuk
  2. Fungsi isi
  3. Kelengkapan unsure
  4. Susunan subjek predikat
  • Menurut jumlah klausa pembentuknya dapat dibedakan menjadi dua:
    • Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Berdasarkan jenis kata/frasa pengisi P-nya, kalimat tunggal dapat diberi nama sesuai dengan p-nya masing-masing.

Contoh:

  1. Kami mahasiswa Indonesia. (kalimat nominal)
  2. Jawaban anak pintar itu sangat tepat. (kalimat adjektifal)
  3. Sapi-sapi sedang merumput. (kalimat verbal).
  4. Mobil orang kaya itu ada delapan. (kalimat numeral)
  • Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal.

Contoh:

  1. Seorang manajer harus mempunyai wawasan yang luas

S                          P                             O1

dan harus menjunjung tunggi etika profesi.

P2                      O2

  1. Anak-anak bermain layang-layang di halaman kampus

S1            P1              O1                     Ket

ketika para dosen, karyawan, dan mahasiswa menikmati hari libur.

S2                                   P2              O2

TABEL 10

PENGHUBUNG KLAUSA DALAM KALIMAT MAJEMUK SETARA

JENIS HUBUNGAN FUNGSI KATA PENGHUBUNG
  1. Penjumlahan
  1. Pertentangan
  1. Pemilihan
  1. Penrurutan
Menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa dan prosesMenyatakan apa  yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa keduaMenyatakan pilihan di antara dua kemungkinan

Menyatakan kejadian yang berurutan

Dan, serta, baik, maupunTetapi, sedangkan, bukanya, melainkanAtau

Lalu, kemudian

Contoh kalimat majemuk setara:

  1. Erni mengonsep surat itu dan Rini mengetiknya.
  2. Yusril rajin membaca, baik sewaktu menjadi mahasiswa, maupun setelah bekerja

Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat derajat klausa pembentuknya tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Karena itu konjungtor yang menghubungkan klausa-klausa kalimat majemuk bertingkat juga berbeda dengan kalimat konjungtor setara.

TABEL 11

PENGHUBUNG ANTARKLAUSA KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT

JENIS HUBUNGAN FUNGSI KATAPENGHUBUNG
  1. Waktu
  1. Syarat/ Pengandaian
  1. Tujuan
  1. Konsesif
  1. Perbandingan
  1. Penyebaban
  1. Pengakibatan
  1. Cara
  1. Kesetaraan
menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan yang dinyatakan dalam klausa utamamenyatakan syarat atau pengandaian terlaksananya apa yang disebut dalam klausa pertamamenyatakan satu tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama

memuat pernyataan yang tidak akan mengubah yang dinyatakan dalam klausa utama

memperlihatkan perbandingan antara pernyataan klausa utama dengan klausa bawahan

klausa bawahan menyatan alasan terjadinya sesuatu yang dinyatakan dalam klausa utama

klausa bawahan menyatakan akibat dari apa yang dinyatakan Klausa pertama

klausa bawahan menyatakan cara pelaksanaan dari pernyataan Klausa pertama

klausa bawahan menyatakan adanya kenyataan yang mirip dengan keadaan yang sebenarnya

Sejak, sedari, sewaktu, sementara, seraya, setelah, sambil, sehabis, sebelum, ketika, tatkala, kingga, sampaiJika(lau), seandainya, andaikata, andaikanasalkan, kalau, apabila, bilamana, manakalaAgar, supaya, untuk, biar

Walau(pun), meski(pun), sekalipun, biar(pun), kendati(pun), sungguh(pun)

Seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, alih-alih, ibarat

Sebab, karena, oleh karena

Sehingga, sampai(-sampai), maka

Dengan, tanpa

Seolah-olah, seakan-akan

 

 

 

 

 

JENIS KALIMAT MENURUT FUNGSINYA

Berdasarkan fungsi isi atau makna komunikatifnya kalimat dapat dibedakan atas empat macam, yaitu:

  1. KALIMAT BERITA (DEKLARATIF)

Adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk menyatakan suatu berita kepada mitra komunikasinya. Bentuk kalimat bersifat bebas yang penting isinya merupakan pemberitaan. Pada bahasa lisan kalimat ini berintonasi menurun dan pada bahasa tulis kalimat bertanda baca akhir titik.

  1. KALIMAT TANYA (INTEROGATIF)

Adalah kalimat yang dipakai oleh penutur untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. Pada bahasa lisan kalimat ini berintonasi akhir naik dan pada bahasa tulis kalimatnya diakhiri dengan tanda Tanya. Selain hadirnya tanda Tanya, hadir pula Tanya bagaimana, kapan, bilamana, dimana, yang mana, siapa, apa(kah).